Para ibu, umi, bunda dan saudariku yang shalihah…
Ketika
sepasang suami istri memulai sebuah perkenalan ( ta’aruf ), dilanjutkan
khitbah dan pernikahan mereka dengan cara yang ma’ruf, yakni dengan
harapan untuk lebih mendekatkan diri kepada Rabbnya semata, maka ketika
itulah sebenarnya pasangan tersebut sudah mulai menentukan potensi
spiritual calon anak-anak mereka untuk cenderung kepada fithrahNya.
Pendidikan pada diri seorang anak sesungguhnya telah dimulai jauh
sebelum sang anak memiliki tubuh dan kesadaran manusiawinya.
Potensi
ini akan terus berlanjut saat seorang anak terbentuk dalam kandungan.
Ketika setetes mani telah tertanam dalam rahim seorang ibu, menjadi
segumpal darah, segumpal daging, tulang belulang kemudian terbungkus
kembali dengan daging, hingga terbentuklah tubuh yang telah ditiupkan
ruh kepadanya.
Dalam
masa ini, pada umumnya seorang ibu akan merasakan perubahan pada
dirinya, dari mulai menurunnya ketahanan fisik hingga psikisnya. Namun
jika seorang ibu mampu memerangi dirinya untuk senantiasa menjaga
kesehatan fisik, stabilitas emosi serta tidak menjadikan kondisi
kehamilannya sebagai alasan untuk menuruti setiap keinginannya, maka
sesungguhnya ia sudah pula membentuk karakter dasar tangguh pada sang
calon anaknya. Begitu pula sebaliknya. Karakter dasar ini, jika terus
menerus dibina hingga dewasa, akan amat menentukan bagi mampu tidaknya
sang anak memerangi dan menundukkan hawa nafsunya sendiri.
Dua
tahun pertama dalam kehidupan sang bayi adalah saat-saat ketika ia
diperkenalkan kepada sifat Allah Yang Maha Pengasih. Dalam fase ini pun
cara untuk mendidik seorang bayi adalah dengan mulai mengetahui tugas
perkembangan fisiologisnya, mengenali bagian-bagian tubuh, cara
memfungsikannya, serta memahami keberadaan orang-orang disekitarnya
tentunya dengan cara penuh kelembutan.
Jika
pun seorang bayi melakukan kesalahan, maka belumlah bisa ia disalahkan,
seperti sifat Maha Pengasih dan Maha Pemurah Allah yang tidak
memandang kesalahan sebagai faktor yang akan menghapus karunia untuknya (
karena orang-orang yang memiliki dosa pun tetap dikaruniai makanan,
minuman dan tentunya kesempatan untuk memperbaiki diri ).
Rasa
inilah yang akan cenderung mengembangkan sifat yang optimis dan
positif, serta akan memudahkannya untuk menjadi seorang yang senantiasa
hidup dengan penuh prasangka baik terhadap Allah beserta alam
ciptaanNYa.

nice... post.... dituggu cerita selanjutnya.....
BalasHapus